jump to navigation

Program Konversi Minyak Tanah Yang Bermasalah March 19, 2010

Posted by gilangkanigara in Miscellaneous.
trackback

Beberapa saat yang lalu, pemerintah telah menjalankan program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Konversi ini dilakukan guna mengurangi subsidi minyak tanah untuk keperluan rumah tangga yang bernilai sekitar Rp 30 triliun. Pada awalnya, minyak tanah dikonversi bukan ke gas elpiji, melainkan ke batu bara. Pada pertengahan tahun 2006, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengganti konversi ke gas elpiji buatan Pertamina.

Menurut Pertamina, gas elpiji buatan mereka memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan minyak tanah seperti :

–       Mudah digunakan dan dipindahkan

–       Bersih dan ramah lingkungan

–       Pembakaran mudah disesuaikan

–       Temperatur panas yang tinggi

–       Berbau khas

–       Kompor tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu

Kekurangannya antara lain :

–       Memerlukan tabung yang harganya cukup mahal

–       Memerlukan peralatan seperti kompor gas yang harganya lebih mahal dibandingkan dengan kompor biasa

–       Harus dibeli dalam satuan tertentu (tidak bisa eceran)

Selain gas elpiji, Pertamina juga menyebutkan kelebihan dan kekurangan minyak tanah. Kelebihannya antara lain :

–       Perlu kompor biasa yang harganya relatif lebih murah

–       Dapat dibeli secara eceran

Kekurangannya antara lain :

–       Lebih repot dalam penggunaan

–       Berasap dan berjelaga

–       Meninggalkan kotor pada tembok

–       Menyebabkan polusi

–       Dapat menyebabkan bau pada makanan

–       Perlu waktu untuk memanaskan kompor

Pertamina juga menyebutkan bahwa pemakaian dengan gas elpiji lebih hemat sekitar Rp 24,000 / bulan dibandingkan dengan menggunakan minyak tanah karena elpiji lebih efisien dan mempunyai pembakaran yang lebih sempurna.

Program konversi minyak tanah di wilayah Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 95 persen. Pemerintah, melalui Pertamina, telah membagikan sekitar 1,761,408 kompor dan tabung gas kepada masyarakat Jakarta. Pembagian ini telah dilakukan sejak Agustus 2006 lalu.

Untuk pembagian paket tabung elpiji tiga kg bagi usaha kecil, pendistribusian telah dimulai awal April 2008 dengan tujuan membagikan sekira 150 ribu paket kompor jenis tekanan rendah (low pressure) dan tekanan tinggi (high pressure) di lima wilayah kotamadya provinsi DKI Jakarta. Hingga 6 April 2008, program ini telah mencapai tingkat realisasi sekitar 60 persen.

Sementara itu, Pertamina juga telah menjual minyak tanah tanpa subsidi di 17 SPBU wilayah DKI Jakarta. Minyak tanah tanpa subsidi itu dijual dengan harga Rp43 ribu per kemasan atau Rp8.600 per liter.

Sebagai perbandingan, konsumsi minyak tanah wilayah DKI Jakarta sebelum program konversi sebesar 3.500 kilo liter per hari. Sejak program konversi ini diberlakukan, penggunaan minyak tanah saat ini berkurang drastis menjadi 600 kilo liter per hari.

Kendala Masyarakat

Walaupun niat pemerintah untuk mengonversi minyak tanah ke gas elpiji adalah baik dan juga gas elpiji mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri, tapi ada beberapa kendala yang dialami oleh masyarakat miskin.

Pergantian konversi yang awalnya ke batu bara lalu berubah menjadi gas elpiji secara tiba-tiba tidak hanya mengejutkan masyarakat yang sudah mulai bersiap-siap mengganti minyak tanah ke batu bara, tapi juga mengecewakan para pengrajin tungku batu bara dan para peneliti yang telah berhasil membuat tungku batu bara modern yang bisa mengatur nyala api dan menghemat pemakaian batu bara.

Dari aspek fisik, minyak tanah bersifat cair sehingga transportasi, pengemasan, dan penjualan sistem eceran pun mudah. Masyarakat kecil bisa membeli minyak tanah hanya 0.5 liter yang harganya sekitar Rp 1,500 per liter untuk minyak tanah bersubsidi dan mereka bisa membawanya dengan mudah. Minyak tanah tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam plastik. Hal ini jelas tak mungkin bisa dilakukan untuk pembelian elpiji, karena elpiji dijual per tabung, yang isinya tiga kilogram dengan harga sekitar Rp 15,000. Masyarakat jelas tidak mungkin bisa membeli elpiji hanya 0.5 kilogram dan membawanya dengan plastik atau kaleng susu. Dari aspek kimiawi, elpiji jauh lebih mudah terbakar dibanding minyak tanah dan membuat masyarakat takut menggunakannya.

Bagi masyarakat miskin, membeli gas elpiji seharga Rp 15,000 per tabung sangat memberatkan, karena penghasilan mereka tiap hari hanya cukup untuk makan sehari, bahkan terkadang kurang. Ini berbeda dengan dengan minyak tanah yang bisa dibeli eceran, satu atau bahkan setengah liter sekalipun.

Selain itu, kebutuhan prioritas masyarakat tertentu juga penting. Sebagai contoh, masyarakat pedesaan di lereng-lereng pengunungan tidak begitu membutuhkan gas elpiji karena mereka bisa mendapatkan bahan bakar berupa kayu, batu bara, atau briket yang bisa didapatkan dengan cuma-cuma dan bisa dibuat sendiri. Yang lebih dibutuhkan mereka adalah listrik yang notabene belum masuk ke wilayah pegunungan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: