jump to navigation

Ayah Dani March 12, 2010

Posted by gilangkanigara in Cerita Pendek.
trackback

Saat itu sedang hujan. Dani sedang menatap keluar jendela dengan wajah sedih. Hari ini sebenarnya adalah kesempatan pertamanya untuk bisa memancing dengan ayahnya di kolam pemancingan dekat rumahnya. Dua hari yang lalu, ayahnya menjajikannyan akan memancing hari ini. Tapi, bukan hujan yang menyebabkan Dani sedih. Tiba-tiba ayahnya ditelepon oleh rekan kerjanya untuksegera pergi ke kantornya. Ayahnya terpaksa membatalkan janji memancingnya dengan Dani. Hujan hanya seolah-olah menggambarkan kesedihan Dani.

Ayah Dani adalah orang yang sangat sibuk. Hampir setiap hari ia pergi ke kantor. Satu tahun yang lalu, ayah Dani sebenarnya pernah dipecat karena dituduh mencuri uang di kantor lamanya. Beberapa lama setelah itu, ayah Dani pun menganggur. Tiba-tiba pada suatu hari, ayah Dani pulang membawa banyak uang ke rumah. Ibu Dani bertanya dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu. Ayah Dani hanya menjawab bahwa ia mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang besar.

Malam pun tiba, ayah Dani masih belum pulang juga dan tidak memberi kabar. Hal seperti memang biasa, tapi entah kenapa Dani mempunyai perasaan tidak enak. Ia pun meminta ibunya untuk menelpon ayahnya, tapi tidak tersambung juga. Dani terus menunggu dengan gelisah. Ia berharap ayahnya pulang secepatnya.

Sekitar jam 11 malam, tiba-tiba telepon rumah berdering. Seorang polisi menelpon untuk memberitahu bahwa  Ibu Dani pun mengangkatnya.suaminya sedang berada di rumah sakit. Ibu Dani sangat terkejut dan langsung bergegas menuju rumah sakit bersama Dani. Di rumah sakit, ternyata Dani dan ibunya mendapati ayah Dani sedang duduk di lobby. Mereka pun bertanya apa yang terjadi padanya sekaligus bingung karena mereka mengira ayah Dani terkena kecelakaan.

Ayah Dani menjelaskan bahwa ia sebenarnya bekerja di rumah sakit ini sebagai perawat tapi ia tidak berani berterus terang karena malu pada keluarganya. Lalu, ia menjelaskan kalau tadi ia ingin mengetahui keadaan Dani di rumah tapi ia lupa membawa telepon genggamnya. Maka ia meminta tolong pada temannya yang berprofesi sebagai polisi dan kebetulan sedang menjaga kerabatnya yang sedang dirawat. Timbul rasa iseng temannya dan ia pun mengerjai keluarga Dani. Ibu Dani yang cepat panik langsung pergi begitu saja ke rumah sakit.

Akhirnya, keadaan kembali menjadi tenang. Ayah Dani menggendong Dani dan memberikan sebuah boneka ikan paus seraya berjanji bahwa mereka pasti akan memancing bersama.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: